Saturday, November 9, 2013

aku butuh "kamu"

dan kini
kita sampai pada titik ini
dimana detik mengiring diri menyadari arti kita tak lagi se-ungu dahulu
entah apa yang dikikis sang waktu hingga kita terasa hampa

bukankah dulu kau menjadi pengikat hati yang tercerai berai terhempas kejamnnya hidup
bukankah dulu kau menjadi sumber dari semua senyumku
tak perduli apapun yang dunia hujatkan pada kita
bukankah dulu kau adalah tempatku mengadukan keluh kesah akan bobroknya hidup
bukankah kamu tiang dimana dapat kusandarkan semua lelahku

kini hidup mengirimkan jutaan hujatan akan diri
kini hidup menjatuhkan jiwa dan meremukkan asa ini
dan kini aku kehilangan kendali atas lajunya
namun tak kutemui kau disana

ribuan cara, ribuan detik
aku terus mencari nyaman yang dulu ada
sebuah senyum yang mampu meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja
sebuah kehangatan yang mampu tepiskan tetesan air mata ini
namun tak kutemui kau disana

lelah ini melahirkan bungkam dan amarah yang tak berarah
dan yang terdengar diujung sudut ruang hati hanya
sebuah tanya "apa mauku?"

'apa mauku' bukanlah esensi semua ini
'apa mauku' bukanlah sesuatu yang hilang

mengapa tanya itu tak mengerti
mengapa suara itu tak mendalami
bukan apa mauku
namun apa yang kubutuhkan
sesederhana yang dulu ada
aku butuh "kamu"



kini

pikir terhempas akan sebuah kesederhanaan yang ada di masa lalu.

"hidup untuk kekinian"

waktu berjalan terlalu cepat dan "kini" menjadi sebuah komplikasi akan masa lalu, masa depan, harap dan keharusan. "kini" nampak tak lagi sesederhana seharusnya. apa ini sudah yang seharusnya? kedewasaan membawa kita pada keputusan-keputusan sulit melalui pertimbangan-pertimbangan dalam? bukan lagi apa yang diinginkan hati, bukan pula asa diri, namun berbaur dengan langkah dan rencana, keinginan dan keharusan para pihak. dan semua tampak menjadi begitu rumit. tak dapatkah kita kembali pada kesederhaan pikir yang ada dulu?


Wednesday, October 30, 2013

arti hidupmu

baitan kata terurai dalam setiap harimu berucap betapa berharganya dia, serentak hati bertanya tentang keberadaanku dan asa yang mencipta diri ini. bukankah aliran darah dalam tubuh ini adalah milikmu juga? mengapa aku dan kami tak menjadi berharga seperti halnya ia bagimu. bukankah daging ini tercipta dari sumsummu juga? bukankah nafas ini tercipta dari ragamu juga?

lalu apa artinya keberadaan ini bila pada titik ini yang terlihat kami hanya bagai ulasan debu yang coba kau singkirkan dari tajuk hidupmu.

ratusan hari kau hitung rindumu akan dia, hanya dia seorang, pernahkah kau pikirkan penggalan-penggalan jiwamu yang tercipta juga membutuhkan setetes saja dari lautan kasihmu yang tercurah padanya itu?

kamu yang tak pernah ada disini, menyalahkan api kebencian yang timbul dari jiwa-jiwa terluka ini padamu, tak pernahkan terlintas dalam anganmu bahwa seharusnya kau menjadi pembimbing bagi jiwa kami saat kami membentuk jati diri, bahwa seharusnya kamu yang menyiramkan benih-benih cinta agar dapat tumbuh dalam raga sang jiwa, bahwa seharusnya kamu menjadi figur untuk dipanut?

lalu apa ini? apa arti semua bualan kata rindu dan cinta yang tertuangkan untuk sebuah sosok yang sama sekali tak pantas untukmu? hidupmu yang kau curahkan hanya untuk mengejar dia.

pernahkah terlintas sedetik saja dalam ribuan detik hari yang tercipta bahwa kami membutuhkanmu? pernahkan terlintas bahwa kamilah benih hidup yang tumbuh dari akar nadimu? bukankah seharusnya kami menjadi arti hidupmu???