Wednesday, August 18, 2010

resahku..

hari-hari belakangan ini, ku lihat cerita kita tak seindah biasanya. kau tak seindah yang selalu kulihat. seolah selaput awan mendung itu menyelimuti senyumanmu. entah apa yang ada dibenakmu, tak satupun kata terucap perjelas resahku.

sudah jarang tawa bersahutan dari bibir kita. aku tahu raga kita lelah karena tempaan hidup. namun senyummulah canduku tuk hadapi semua. dan kini ku merindukannya. ku merindukan kata yang bersahutan geram saat kita mengadu pikir. kuridukan tawa membahana yang tercipta saat kita bertukar canda.

hmm..
entah mengapa kurasakan ada sedikit jarak yang tercipta dalam hidup. jarek antara kita.
mungkin hanya hatiku yang terlalu resah, atau mungkin memang kau memendam sebuah gundah?

Friday, August 6, 2010

tak habis dipikir..

Terkadang pikir tak mampu sampai ke titiknya..
mengapa bisa seseorang berkata untuk mengakhiri sebuah hubungan yang dalam tanpa alasan yang jelas, sadarkah dia sudah menghancurkan hidup seseorang dan mungkin akan berefek kepada orang-orang disekitar korban terluka itu. lalu disebuah tengah hari bolong (out of nowhere) tanpa pikir panjang dia mengumumkan pada dunia dia menyesal dan menginginkan orang itu kembali.

hmmm...
how could you kill some one in a short blade then suddenly ask them to wake up again???

Tuesday, August 3, 2010

akhir-akhir ini..

mengapa lelah ini begitu dalam terasa hari belakangan ini. mencoba menjadikan nyata hal tidak mungkin. berjuang tanpa henti dari awal kelopak mata terbuka di pagi hari. mungkin bosan akan semua.. mungkin juga mulai kehilangan arah...

mencoba menelik ke dalam mencari salah dalam diri. ternyata terlalu banyak namun asa juga hilang untuk menjadikan semua menjadi seperti idealisme buta di malam gelap. idealisme.. mungkin itu yang berkurang atau mungkin malah sungguh menghilang.

akhirnya diri hanya berminat untuk melewati hari secepat waktu berjalan.. dorongan yang kuat untuk segera berpulang ke pelukan nyaman lembab di dalam remang. mungkin aku yang menurunkan hasrat, atau memang semua yang akhirnya menjadi terlihat tidak menarik, atau memang sesungguhnya tidak pernah menarik.

mungkin rasa tidak dihargai dari segelintir pasir yang menorehkan luka akan diri yang berjuang keras dan akhirnya aku jadi malas berjuang.

tentang hatiku berkata mengeluh
lalu untuk apa aku mencurahkan semua..
menomorsatukan perjuangan yang mereka sebut tanggung jawab.
menjadikannya prioritas diatas segala yang timbul di hidup

apa memang tak pernah ada harga yang tercipta di otak mereka tentang semua
atau memang harganya seharusnya hanya untuk jiwa ini sendiri
datang dari jiwa ini sendiri?

atau mungkin semua hanyalah teka-teki sederhana sebuah kebosanan...